Thursday, January 31, 2013

Atheis dan Kita

Pertanyaan orang atheis tentang mereka butuh bukti keberadaan tuhan itu sama ketika dulu Bani Isroil minta ketemu tuhan kepada Nabi Musa.
Gue nggak ada masalah dengan orang-orang atheis dan bisa menerima mereka, tapi sejujurnya jadi atheis itu jauh lebih sulit. Karena mereka harus membuktikan bahwa tuhan itu nggak ada. Dan cara membuktikannya adalah dengan membuktikan dulu bahwa tuhan itu ada. Ini gak beda dengan kalo lo mau “unlike” status di fb, lo harus “like” status itu dulu dong. :)

Begini. Maksud gue, untuk menyatakan bahwa agama itu hanya buatan manusia dan bukan tuhan, mereka harus menganalisa setiap agama yang ada sampai akhirnya menyimpulkan bahwa masing-masing mereka nggak ada yang bener. And it needs long time.

Bukan hanya gue, kaum agamawan dari agama manapun mengakui mereka, di Indonesia contohnya, kalo ada kasus terorisme, mereka biasanya bilang, “Kami mengutuk perbuatan itu. Itu adalah perbuatan kaum yang tidak beragama.”
Oke, walaupun pengakuannya sadis juga.

Memang atheis nggak berhubungan dengan kebejatan moral, sebagaimana orang yang beragama juga nggak terjamin menjadi bermoral. Orang atheis juga punya standar moral yang baik dan ingin membuat dunia ini menjadi damai dan tempat yang lebih baik.

Atheis cenderung membenci orang beragama karena mereka cenderung merusak, apalagi kaum radikalnya. Tapi tentu atheis juga punya kaum radikal dan fundamentalis, walaupun juga nggak sebanyak kaum beragama. Ya tentu saja karena sekarang ini mereka minoritas.
Menurut gue orang atheis itu punya tuhan, yang mereka juga nggak bisa jelaskan wujudnya, yang nggak bisa mereka materikan tubuhnya, tuhan mereka dalah ilmu pegetahuan.

Thursday, December 29, 2011

Writer + Outline + Deadline = Book

Judul di atas adalah kesimpulan saya setelah membaca blog A.s. Laksana. Di bawah ini adalah penjelasan sesuai dengan apa yang saya pahami.

1. Writer

Siapa itu penulis? Penulis adalah seseorang yang melakukan pekerjaan menulis. Penulis harus punya resistensi untuk menghindari sikap yang nggak relevan dengan pekerjaannya. Apa yang nggak relevan bagi penulis? Ketika ia mengatakan bahwa ia sedang nggak bisa menulis dan benar-benar nggak tahu apa yang harus ditulis. Ini seperti seorang penyanyi yang mengatakan nggak bisa bernyanyi dan nggak tahu apa yang harus dinyanyikan, padahal ia dalam kondisi yang prima.

Ya, ratapan seorang penulis tentang writer’s block menjadi nggak relevan sama sekali. Yang penulis perlukan adalah tahu setiap hari apa yang harus ditulis. Dengan demikian dia akan tetap bisa menulis apapun keadaannya.

Kemudian, apa perangkat yang menjadikan seorang penulis tahu apa yang harus ditulis setiap hari? Perangkat itu disebut outline.

2. Outline

Outline itu ibarat rancangan arsitektur sebuah rumah. Jika orang membangun rumah tanpa punya rancangan arsitektur, nggak tahu cara membuat fondasi, nggak bisa membikin rangka, akhirnya yang ia bangun hanyalah sebuah gubuk.

Ketika menulis buku, fiksi maupun non-fiksi, penulis yang baik harus memastikan bukan hanya apa yang akan ditulis hingga selesai, tapi juga kapan bisa menuliskannya dan bagaimana cara menuliskannya. Dan itulah guna outline yang akan membuat penulis tahu apa yang akan ditulis setiap hari sampai bukunya selesai.

Bagaimanapun penulisan buku terdiri atas beberapa pekerjaan: membuat outline, melakukan riset, menulis draft, mengedit draft yang sudah selesai, dan sebagainya.

3. Deadline

Jika sesuatu berharga untuk dikerjakan, kerjakan segera, dan beri deadline. Sesuatu yang berharga dan nggak dberi deadline, itu berarti nggak berharga sama sekali.

Karena itu deadline adalah elemen terpenting dalam penulisan. Jadi, jika buku yang ditulis itu sangat penting bagi penulis, dan bagaimanapun perlu diselesaikan, maka tetapkan deadline untuknya.

Jadi kira-kira seperti ini susunan untuk menulis sebuah buku:
• Menulis outline. Buat outline serinci mungkin —bab demi bab, sehingga penulis selalu tahu apa yang harus ditulis.
• Melakukan riset yang diperlukan.
• Menulis sehari satu bab. Ini bisa dilakukan lebih mudah ketika penulis menyiapkan outline.
• Memberikan deadline.
• Mengedit ketika seluruh buku sudah selesai.

Dan menulis itu sangat mudah, juga butuh kerja keras.

"Saat aku lelah menulis dan membaca
Di atas buku-buku kuletakkan kepala
Dan saat pipiku menyentuh sampulnya
Hatiku tersengat
Kewajibanku masih berjebah
Bagaimana mungkin aku bisa beristirahat?"
Imam An Nawawi

Tuesday, December 6, 2011

Penikmat Sastra vs Penganalis Sastra

Sastra itu untuk dinikmati atau untuk dianalisa?

Pertanyaan itu menyulut ingatan saya kepada perdebatan di kalangan pencinta sastra tentang apakah kritik sastra adalah suatu kritik yang mengapreseasi atau kritik yang menganalisa?

Ada dua kubu dalam perdebatan ini. Kubu pertama melihat sastra sebagai suatu objek analisa. Sementara kubu kedua menganggap bahwa sastra adalah suatu gejala yang muncul dalam pengalaman sehingga harusnya diapreseasi sebagai momen pisikologis, momen perjumpaan seseorang dengan presepsinya. Yang pertama nenekankan analisa yang kedua menekankan perasaan.

Pertanyaan selanjutnya —melihat perbedaan yang mendasar dalam pendekatan itu, apakah benar-benar ada ‘pertentangan’ antara keduanya?

Saya memilih untuk menjawab tidak. Karena meskipun sastra —cerita, puisi dan drama— hadir untuk dinikmati dan diapreseasi, namun bagi orang-orang yang sungguh mencintainya, pengenalan lebih lanjut merupakan suatu kebutuhan atau bahkan keharusan. Saya kutipkan sajak Sapardi...

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Sajak tersebut tentu indah. Sangat indah. Namun bagi orang yang berulang kali membaca sajak tersebut, akan bertanya; Apa gerangan yang membut sajak tersebut sedemikian indahnya? Apakah karena pesan yang disampaikan? Kehalusan cara menyampaikannya? Permainan bunyi bahasa? Atau asosiasi-asosiasi yang dirangsang oleh semantik kata-katanya?

Maka mulailah dicari jalan untuk memahaminya secara lebih mendalam. Menyingkap bagian demi bagian, menguraikan, dan bahkan mempertanggungjawabkan uraian tersebut. Saya berkesimpulan bahwa dalam kritik kesusastraan, penikmatan dan analisa tidak harus bertentangan apalagi dipertentangkan.

Jadi, pemujaan kepada penikmatan yang membatalkan semua analisis, atau pemujaan kepada metodologi yang akhirnya membatalkan kesempatan menikmati sebuah karya sastra, adalah merupakan pertentangan yang mubazir.

Friday, October 14, 2011

Lirik Lagu Cinta

Masih ingat, kawan? Ketika kamu memendam perasaan cinta kapada temanmu. Mulanya kamu merasa senang jika berada di dekatnya. Kemudian rindu jika berada jauh dengannya. Pokoknya perasaanmu waktu itu…. Sayahdu.

Bila kamu di sisiku hati rasa syahdu
Satu hari tak bertemu hati rasa rindu
‘Ku yakin ini semua perasaan cinta
Tetapi hatiku malu untuk menyatakannya

Syahdu (Rhoma Irama)


Masih ingat, kawan? Ketika kamu makin dekat dengannya. Sering berbagi canda. Berbagi cerita. Berbagi curahan hati. Dan kamu merasa begitu cocok. Akhinya kamu memutuskan untuk berani mengatakan cinta. Untuk mengatakan, “Jaidkanlah aku pacarmu”

Untaian bunga canda
Tempatkan kau lepaskan tawa
Tenang hati terbaca
Kini tiba waktuku
Untuk puitiskan sayang
Untuk katakan cinta

Reff :
Jadikanlah aku pacarmu
Kan kubingkai slalu indahmu
Jadikanlah aku pacarmu
Iringilah kisahku...

JAP (Sheila On 7)



Masih ingat, kawan? Ketika kamu begitu bahagia karena cintamu bersambut. Kamu merasa mendengar nyanyian dewa dewi. Kamu seakan-akan melihat sang rembulan datang dan menemanimu. Kamu begitu bahagia waktu itu. Ketika kamu jatuh cinta.

Bila aku jatuh cinta
Aku mendengar nyanyian
1000 dewa dewi cinta
Menggema dunia

Bila aku jatuh cinta
Aku melihat matahari
Kan datang padaku
Dan memelukku dengan sayang

Bila aku jatuh cinta
Aku melihat sang bulan
Kan datang padaku
Dan menemani aku

Bila aku jatuh cinta (Nidji)



Masih ingat, kawan? Ketika akhirnya, di tengah-tengah hubungan itu, kalian menemukan berbagai macam masalah. Kalian mencoba mengerti satu sama lain tapi gagal. Masalah yang sama selalu terulang dan menjadikan kalian makin menjauh. Sudah tidak cocok. Seperti air dan api.

Apa maumu?
Apa mauku
S’lalu saja menjadi satu masalah yang tak kunjung henti

Bukan maksudku
Bukan maksudmu
Untuk selalu meributkan hal yang itu-itu saja

Mengapa kita saling membenci?
Awalnya kita saling memberi
Apa tak mungkin hati yang murni sudah cukup berarti?
Ataukah kita belum mencoba memberi waktu pada logika?
Jangan seperti selama ini, hidup bagaikan air dan api.

Air dan Api (Naif)



Masih ingat, kawan? Ketika kamu dihianati. Rasanya dunia runtuh. Hatimu seperti hancur berkeping-keping. Kamu menangis sejadinya. Kamu tidak bisa terima. Namun, seiring berjalannya waktu kamu pun berusaha untuk realistis. Kamu mencoba menyusun kembali serpihan hati yang remuk. Kamu kembali bangkit dan bisa melupakannya. Kamu bisa survive.

It took all the strength I had
Just not to fall apart
I'm trying hard to mend the pieces
Of my broken heart
And I spent oh so many nights
Just feeling sorry for myself
I used to cry,
But now I hold my head up high

I Will Survive (Cake)

Thursday, October 6, 2011

SMS: Short Message Suck

Menurut gue, bonus yang diberikan setiap operator telepon itu absurd. Dalam sehari ada operator telepon yang memberikan bonus seribu SMS. Gue ulangin, seribu SMS! Seribu SMS sehari? Siapa orang kurang kerjaan yang mau mengirim seribu SMS dalam sehari? Kecuali jaringan SMS ‘mama minta pulsa’ tentunya.

Ya, memang hape adalah sebuah pendewaan baru yang kadang-kadang kita gak sadari. Dan gue punya cerita konyol tentang itu.

***

“Bang, Gue punya pulsa SMS banyak!” suatu hari adik perempuan gue berkata tiba-tiba, “Iya kemaren gue nemu simkard di jalan. Kalo mau pake, pake aja!”

Nah Ini Dia